SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG

Selasa, 04 November 2014

Konsep Timbang terima

Manajemen Keperawatan
“Konsep Timbang Terima”
Dosen Pengasuh Ns. Dian Dwiana, S.Kep



Oleh Kelompok III:
                                    Densi Utama Sari                              1126010008
                                    Doresmanto                                       1126010010
                                    Lin Sitra Nia                                      1126010020
                                    Piranika                                             1126010023
                                    Yusinta Sulisti                                    1126010029
                                    Enni Lovisa Putri                              1126010030
                                    Noven Haryadi                                  1126010032
                                    Satrio Noviansyah                             1126010034
                                    Sufran Saputra                                 1126010036
                                    Ayu Susana                                        1126010109


Prodi Ilmu Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes)
Tri Mandiri Sakti
Bengkulu
2013/2014
KATA PENGANTAR
Puji Syukur Kehadirat Allah SWT yang telah memberikan dan melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah “Managemen keperawatan” dengan judul makalah ”Konsep Timbang Terima” sehingga dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya.
  Kami menyadari bahwa sepenuhnya makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan baik itu bahasa penulisan maupun isinya. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kepada Dosen pengasuh mata kuliah ini dan teman-teman semua agar dapat memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun.
            Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.


Bengkulu, Juni 2014

                                                                                                                 Penulis







DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Tujuan
C.    Manfaat
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian
B.     Tujuan
C.    Langkah-Langkah
D.    Prosedur Timbang Terima
BAB III KEGIATAN
A.    Pelaksanaan
B.     Pengorganisasian
C.    Metode dan Media
D.    Skema Timbang Terima
E.     Instrumen
F.     Mekanisme Kegiatan Timbang Terima
G.    Evaluasi
H.    Resume Pelaksanaan Timbang Terima
BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran
Daftar Pustaka





BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pengoptimalan peran dan fungsi perawat, terutama peran dan fungsi mandiri merupakan satu upaya dalam meningkatkan profesionalisme pelayanan keperawatan. Hal ini berkaitan dengan tuntutan profesi dan tuntutan global bahwa setiap perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara profesional dengan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi. Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan dirasakan sebagai suatu fenomena yang harus direspon oleh perawat. Respon yang ada harus bersifat kondusif dengan belajar tentang konsep pelayanan keperawatan dan langkah- langkah konkret dalam pelaksanaannya. Langkah- langkah tersebut dapat berupa penataan ketenagaan dan pasien, penerapan MAKP dan perbaikan dokumentasi keperawatan.
Profesionalisme dalam pelayanan keperawatan dapat dicapai dengan mengoptimalkan peran dan fungsi perawat, terutama peran dan fungsi mandiri perawat.  Hal ini dapat diwujudkan dengan baik melalui komunikasi yang efektif antar perawat, maupun dengan tim kesehatan yang lain. Salah satu bentuk komunikasi yang harus ditingkatkan efektifitasnya adalah saat pergantian shift, yaitu saat timbang terima klien.Timbang terima merupakan teknik atau cara untuk menyampaikan dan menerima sesuatu (informasi) yang berkaitan dengan keadaan klien. Timbang terima klien harus dilakukan seefektif mungkin dengan menjelaskan secara singkat jelas dan lengkap tentang tindakan mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudah dilakukan/belum dan perkembangan klien saat itu. Informasi yang disampaikan harus akurat sehingga kesinambungan asuhan keperawatan dapat berjalan dengan sempurna. Timbang terima dilakukan oleh perawat primer antar shift secara tulisan dan lisan.
Timbang terima merupakan teknik atau cara untuk menyampaikan dan menerima informasi yang berkaitan dengan keadaan klien. Timbang terima harus dilakukan seefektif mungkin dengan menjelaskan secara singkat, jelas dan komplit tentang tindakan mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudah dilakukan saat itu. Informasi yang disampaikan harus akurat sehingga kesinambungan asuhan keperawatan dapat berjalan dengan sempurna. Timbang terima dilakukan oleh perawat primer antar shift secara tulisan dan lisan.
Selama ini timbang terima sudah dilakukan. Isi dan substansi timbang terima yang dilakukan selama ini adalah identitas pasien, diagnosa medis, diagnosa keperawatam, program terapi yang sudah dilakukan dan rencana tindakan yang akan dilakukan. Timbang terima dilakukan secara lisan dan tertulis kemudian keliling ke semua pasien. Timbang terima perlu terus ditingkatkan baik teknik maupun alurnya karena timbang terima merupakan bagian penting dalam menginformasikan permasalahan klien sehari- hari.
Keakuratan data yang diberikan saat timbang terima sangat penting, karena dengan timbang terima ini maka pelayanan asuhan keperawatan yang diberikan akan bisa dilaksanakan secara berkelanjutan, dan mewujudkan tanggungjawab dan tanggunggugat dari seorang perawat. Bila timbang terima tidak dilakukan dengan baik, maka akan muncul kerancuan dari tindakan keperawatan yang diberikan karena tidak adanya informasi yang bisa digunakan sebagai dasar pemberian tindakan keperawatan. Hal ini akan menurunkan kualitas pelayanan keperawatan dan menurunkan tigkat kepuasan pasien. Kegiatan timbang terima yang telah dilakukan perlu dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya.

B.  Tujuan
1.    Tujuan Umum
Setelah dilakukan timbang terima, maka mahasiswa dan perawat bedah Dahlia mampu mengkomunikasikan hasil pelaksanaan asuhan keperawatan klien dengan baik, sehingga kesinambungan informasi mengenai keadaan klien dapat dipertahankan.
2.    Tujuan Khusus
a.       Menyampaikan masalah, kondisi dan keadaan klien (data fokus).
b.      Menyampaikan hal-hal yang sudah/belum dilakukan dalam asuhan keperawatan pada klien.
c.       Menyampaikan hal-hal yang penting yang perlu ditindaklanjuti oleh dinas berikutnya.
d.      Menyusun rencana kerja untuk dinas berikutnya.

C.  Manfaat
1.    Bagi Perawat
a.       Meningkatkan kemampuan komunikasi antar perawat.
b.      Menjalin suatu hubungan kerjasama dan bertanggungjawab antar  perawat.
c.       Pelaksanaan asuhan keperawatan terhadap klien yang berkesinambungan.
d.      Perawat dapat mengikuti perkembangan klien secara paripurna.
2.    Bagi Klien
 Klien mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal.
3.    Bagi Rumah Sakit
 Meningkatkan pelayanan keperawatan kepada klien secara komprehensif.



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian
Timbang terima adalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima suatu laporan yang berkaitan dengan keadaan klien. Timbang terima merupakan kegiatan yang harus dilakukan sebelum pergantian shift. Selain laporan antar shift, dapat disampaikan juga informasi-informasi yang berkaitan dengan rencana kegiatan yang telah atau belum dilaksanakan.

B.       Tujuan
1.      Menyampaikan kondisi atau keadaan klien secara umum.
2.      Menyampaikan hal-hal yang penting yang perlu ditindaklanjuti oleh dinas berikutnya.
3.      Tersusun rencana kerja untuk dinas berikutnya.

C.      Langkah-langkah
1.      Kedua kelompok shift dalam keadaan sudah siap.
2.      Shift yang akan menyerahkan perlu mempersiapkan hal-hal apa yang akan disampaikan.
3.      Perawat primer menyampaikan kepada penanggungjawab shift selanjutnya meliputi :
a.    Kondisi atau keadaan klien secara umum.
b.    Tindak lanjut atau dinas yang menerima operan.
c.    Rencana kerja untuk dinas yang menerima operan.
d.   Penyampaian operan di atas harus dilakukan secara jelas dan tidak terburu-buru.
e.    Perawat primer dan anggota kedua shift dinas bersama-sama secara langsung melihat keadaan klien.

D.      Prosedur Timbang Terima
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prosedur ini meliputi :
1.      Persiapan
a.       Kedua kelompok sudah dalam keadaan siap.
b.      Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan.
2.      Pelaksanaan
Timbang terima dilaksanakan oleh perawat primer kepada perawat primer yang mengganti jaga pada shift berikutnya :
a.       Timbang terima dilaksanakan setiap pergantian shift.
b.      Di nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima dengan mengkaji secara komprehensif yang berkaitan tentang masalah keperawatan klien, rencana tindakan yang sudah dan belum dilaksanakan serta hal-hal penting lainnya yang perlu dilimpahkan.
c.       Hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang lengkap sebaiknya dicatat untuk kemudian diserahterimakan kepada perawat jaga berikutnya.
d.      Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat timbang terima adalah :
1)   Identitas klien dan diagnosa medis.
2)   Masalah keperawatan yang masih ada.
3)   Data fokus (Keluhan subyektif dan obyektif).
4)   Tindakan keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan.
5)   Intervensi kolaboratif dan dependensi.
6)    Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan selanjutnya.
7)   Perawat yang melakukan timbang terima dapat melakukan klarifikasi tanya jawab terhadap hal-hal yang ditimbang-terimakan dan berhak menanyakan mengenai hal-hal yang kurang jelas.
e.       Penyampaian saat timbang terima secara jelas dan singkat.
f.       Lama timbang terima untuk setiap pasien tidak lebih dari 5 menit kecuali pada kondisi khusus dan memerlukan penjelasan yang lengkap dan rinci.
g.      Kepala ruangan dan semua perawat keliling ke tiap klien dan melakukan validasi data.
h.      Pelaporan untuk timbang terima ditulis secara langsung pada buku laporan ruangan oleh perawat primer.





\
BAB III
KEGIATAN

A.      Pelaksanaan Kegiatan
Hari / tanggal       :
Pukul                    :
Pelaksana             :
Topik                    :
Tempat                 :
Sasaran                 :

B.       Pengorganisasian
Kepala Ruangan               :
Ketua tim                         :
PA (malam)                      :
PA (malam)                      :
PA (pagi)                          :
PA (pagi)                          :
     
C.      Metode dan Media
1.      Metode
a.       Karu memimpin proses Timbang Terima
b.      Melakukan timbang terima antara Perawat Primer pagi dengan  Perawat Primer sore.
c.       Melaporkan status keadaan klien dari PP pagi ke PP sore.
d.      Diskusi, tanya jawab dan validasi data kembali.
2.      Media
a.       Materi disampaikan secara lisan.
b.      Dokumentasi klien (status).
c.       Buku Timbang Terima




D.      Skema Timbang Terima


Masalah :
·         Teratasi
·         Belum
·         Sebagian
 
 






























E.       Instrumen
1.                                                                                                                                                                  Status klien
2.                                                                                                                                                                  Nursing kit.
3.                                                                                                                                                                  Catatan timbang terima



F.       Mekanisme Kegiatan Timbang Terima
TAHAP
KEGIATAN
WAKTU
TEMPAT
PELAKSANA
Pra Timbang Terima
1.      Kedua kelompok dinas sudah siap dan berkumpul di Nurse Station
2.      Karu mengecek kesiapan timbang terima tiap PP
3.      Kelompok yang akan bertugas menyiapkan catatan (Work Sheet), PP yang akan mengoperkan, menyiapkan buku timbang terima & nursing kit
4.      Kepala ruangan membuka acara timbang terima dilanjutkan dengan doa.
10 menit
Nurse Station
Karu
PP
PA











Pelaksanaan Timbang Terima
1.      PP dinas pagi melakukan timbang terima kepada PP dinas sore. Hal-hal yang perlu disampaikan PP pada saat timbang terima :
a.      Identitas klien dan diagnosa medis termasuk hari rawat keberapa atau post op hari keberapa.
b.      Masalah keperawatan.
c.      Data yang mendukung.
d.     Tindakan keperawatan yang sudah/belum dilaksanakan.
e.      Rencana umum yang perlu dilakukan: Pemeriksaan penunjang, konsul, prosedur tindakan tertentu.
2.      Karu membuka dan memberi salam kepada klien, PP pagi menjelaskan tentang klien, PP sore mengenalkan anggota timnya dan melakukan validasi data.
3.      Lama timbang terima setiap klien kurang lebih 5 menit, kecuali kondisi khusus yang memerlukan keterangan lebih rinci.
20 menit

















Nurse Station





















Disamping tempat tidur klien
Karu
PP
PA

Post timbang terima
1.      Klarifikasi hasil validasi data oleh PP sore.
2.      Penyampaian alat- alat kesehatan
3.      Laporan timbang terima ditandatangani oleh kedua PP dan mengetahui Karu (kalau pagi saja).
4.      Reward Karu terhadap perawat yang akan dan selesai bertugas.
5.      Penutup oleh karu.
5 menit
Nurse station


Karu
PP
PA

G.      Evaluasi
1.         Evaluasi Struktur
Pada timbang terima, sarana dan prasarana yang menunjang telah tersedia antara lain : Catatan timbang terima, status klien dan kelompok shift timbang terima. Kepala ruangan memimpin kegiatan timbang terima yang dilaksanakan pada pergantian shift yaitu pagi  ke sore. Sedangkan kegiatan timbang terima pada shift sore ke malam dipimpin oleh perawat primer.
2.         Evaluasi Proses
Proses timbang terima dipimpin oleh kepala ruangan dan dilaksanakan oleh seluruh perawat yang bertugas maupun yang akan mengganti shift. Perawat primer malam menyerahkan ke perawat primer berikutnya yang akan mengganti shift. Timbang terima pertama dilakukan di nurse station kemudian ke bed klien dan kembali lagi ke nurse station. Isi timbang terima mencakup jumlah klien, masalah keperawatan, intervensi yang sudah dilakukan dan yang belum dilakukan serta pesan khusus bila ada. Setiap klien dilakukan timbang terima tidak lebih dari 5 menit saat klarifikasi ke klien.
3.         Evaluasi Hasil
Timbang terima dapat dilaksanakan setiap pergantian shift. Setiap perawat dapat mengetahui perkembangan klien. Komunikasi antar perawat berjalan dengan baik

H.        Resume Pelaksanaan Timbang Terima
Hari/tanggal       :
Jam                    :
Tempat               :
Acara                 : Timbang Terima

1.    Presensi
a.    Pembimbing dari pendidikan sebanyak 1 orang.
b.    Supervisor sebanyak 1 orang.
c.    Pembimbing  Ruangan Melati sebanyak 1 orang
d.   Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Stikes Tri Mandiri Sakti Bengkulu.
2.    Hasil Evaluasi
a.    Evaluasi struktur
Persiapan dilakukan 5 hari sebelum acara dimulai. Acara sesuai dengan jadwal gannt chart yang telah dibuat.
b.      Evaluasi proses
No
Waktu
Kegiatan
1
13.05-13.30 WIB
Pelaksanaan timbang terima
2
13.30-14.00 WIB
Diskusi dan klarifikasi dari supevisor serta perawat ruangan:
Pembimbing 1
1.         Saat timbang terima hendaknya perawat memperhatikan keadan yang perlu dioperkan pada dinas sore, seperti produksi urin atau pesanan khusus untuk keluarga.
Pembimbing 2
1.       alur timbang terima sudah benar
2.       setting tempat duduk PP dan PA hendaknya dapat lebih berdekatan agar PP dan PA lebih mudah berkolaborasi
3.       pembagian peran PP dan PA hendaknya lebih jelas baik saat di nurse stasion atau saat di pasien
Pembimbing 3
  1. pada laporan timbang terima hendaknya dilengkapi dengan tanda tangan PP pagi dan PP sore sebagai dokumentasi keperawatan
  2. jika pasien tidur jangan dibangunkan dan selalu sapa keluarga pasien.
  3. karu bertugas memimpin timbang terima dan PP bertugas menjelaskan data

c.    Evaluasi hasil
1)      Kegiatan dihadiri 1 pembimbing ruangan, 1 pembimbing pendidikan dan 2 supervisor.
2)      Selama kegiatan, masing-masing mahasiswa bekerja sesuai dengan tugasnya.
3)      Kegiatan berjalan lancar dan tujuan mahasiswa tercapai dengan baik.






BAB IV
PENUTUP

A.      Simpulan
Timbang terima adalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima suatu laporan yang berkaitan dengan keadaan klien. Timbang terima merupakan kegiatan yang harus dilakukan sebelum pergantian shift. Selain laporan antar shift, dapat disampaikan juga informasi-informasi yang berkaitan dengan rencana kegiatan yang telah atau belum dilaksanakan.
Timbang terima bertujuan untuk kesinambungan informasi mengenai keadaan klien secara menyeluruh sehingga tercapai asuhan keperawatan yang optimal.
Pelaksanaan timbang terima pada hari ...........terhadap seluruh klien kelolaan di ruang bedah ,...... sebanyak 8 klien. Pelaksanaan dapat berjalan dengan lancar sesuai perencanaan dan semua personal dapat melaksanakan kegiatan sesuai peran masing-masing.

B.       Saran
  1. Pembagian peran PP dan PA hendaknya lebih jelas baik saat di nurse stasion atau saat di pasien
  2. Pada laporan timbang terima hendaknya dilengkapi dengan tanda tangan PP pagi dan PP sore sebagai dokumentasi keperawatan




DAFTAR  PUSTAKA

Nursalam. 2002. Manajemen Keperawatan : Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: Salemba Medika.

Gillies. 1989. Managemen Keperawatan Suatu pendekatan Sistem, Edisi Terjemahan. Alih Bahasa Dika Sukmana dkk. Jakarta.

PSIK. 2003. Buku Panduan Manajemen Keperawatan : Program Pendidikan Ners. Surabaya.

…………….. (2003). Kumpulan Materi Kuliah Manajemen Keperawatan : Disampaikan Pada Perkuliahan PSIK FK Unair (tidak dipublikasikan)


Read More...

Askep Hiperbilirubin

SISTEM REPRODUKSI
“ASKEP HIPERBILIRUBIN”



Di Susun Oleh : Kelompok 6
Susi Murni Fratami 1126010002
Densi Utama Sari 1126010008
Eda Nastaliza 1126010012
Leni Rahmawati 1126010026
Meggy Novriadi 1126010028
Satrio Noviansyah 1126010034

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN 
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN 
TRI MANDIRI SAKTI BENGKULU
2014


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Salah satu keadaan yang menyerupai penyakit hati yang terdapat pada bayi baru lahir adalah terjadinya hiperbillirubin yang Hiperbilirubinemia merupakan suatu keadaan dimana kadar bilirubin serum total yang lebih dari 10 mg% pada minggu pertama yang ditandai dengan ikterus pada kulit, sclera dan organ lain. Keadaan ini mempunyai potensi meningkatkan kern ikterus yaitu keadaan kerusakan pada otak akibat perlengketan kadar bilirubin pada otak. Kelainan ini tidak termasuk kelompok penyakit saluran pencernaan makanan, namun karena kasusnya banyak dijumpai maka harus dikemukakan. Kasus ikterus ditemukan pada ruang neonatus sekitar 60% bayi aterm dan pada 80 % bayi prematur selama minggu pertama kehidupan. Ikterus tersebut timbul akibat penimbunan pigmen bilirubin tak terkonjugasi dalam kulit.  Bilirubin tak terkonjugasi tersebut bersifat neurotoksik bagi bayi pada tingkat tertentu dan pada berbagai keadaan.
Ikterus pada bayi baru lahir dapat merupakan suatu gejala fisiologis atau patologis. Ikterus fisiologis terdapat pada 25-50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada neonatus kurang bulan sebesar 80%. Ikterus tersebut timbul pada hari kedua atau ketiga, tidak punya dasar patologis, kadarnya tidak membahayakan, dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi. Ikterus patologis adalah ikterus yang punya dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia. Dasar patologis yang dimaksud yaitu jenis bilirubin, saat timbul dan hilangnya ikterus, serta penyebabnya.
Neonatus yang mengalami ikterus dapat mengalami komplikasi akibat gejala sisa yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya.  Oleh sebab itu perlu kiranya penanganan yang intensif untuk mencegah hal-hal yang berbahaya bagi kehidupannya dikemudian hari. Maka sebagai calon perawat profesional kita harus memiliki kompetensi yang baik dalam menanggulangi kejadian penyakit hiperbilirubin untuk memperbaiki mutu dan kualitas kesehatan masyarakat.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan penulis dalam pembuatan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Hiperbilirubin” adalah :
1. Untuk Mengetahui Pengertian Hiperbilirubin
2. Untuk Mengetahui Etiologi Hiperbilirubin
3. Untuk Mengetahui Patofisiologi Hiperbilirubin
4. Untuk Mengetahui Klasifikasi Hiperbilirubin
5. Untuk Mengetahui Manisfestasi Klinis Hiperbilirubin
6. Untuk Mengetahui WOC Hiperbilirubin
7. Untuk Mengetahui Komplikasi Hiperbilirubin
8. Untuk Mengetahui Penatalaksanaan Hiperbilirubin
9. Untuk Mengetahui Asuhan Keperawatan Hiperbilirubin


BAB II
ISI

2.1 Pengertian
Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan, melebihi batas atas nilai normal bilirubin serum sehingga menimbulkan joundice pada neonatus (Dorothy R. Marlon, 1998)
Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar nilainya lebih dari normal (Suriadi, 2001). Nilai normal bilirubin indirek 0,3 – 1,1 mg/dl, bilirubin direk 0,1 – 0,4 mg/dl.
Hiperbilirubin adalah peningkatan kadar bilirubin serum (hiperbilirubinemia) yang disebabkan oleh kelainan bawaan, juga dapat menimbulkan ikterus. (Suzanne C. Smeltzer, 2002)
Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek pathologis. (Markum, 1991:314)
Hiperbilirubinemia (ikterus bayi baru lahir) adalah meningginya kadar bilirubin di dalam jaringan ekstravaskuler, sehingga kulit, konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kuning (Ngastiyah, 2000).
Metabolisme Bilirubin :
Segera setelah lahir bayi harus mengkonjugasi Bilirubin (merubah Bilirubin yang larut dalam lemak menjadi  Bilirubin yang mudah larut dalam air) di dalam hati.Frekuensi dan jumlah konjugasi tergantung dari besarnya hemolisis dan kematangan hati, serta jumlah tempat ikatan Albumin (Albumin binding site). Pada bayi yang normal dan sehat  serta cukup bulan, hatinya sudah matang dan menghasilkan Enzim Glukoronil Transferase yang memadai sehingga serum Bilirubin tidak mencapai tingkat patologis.

2.2 Etiologi
1. Peningkatan produksi :
- Hemolisis, misal pada Inkompatibilitas yang terjadi bila terdapat ketidaksesuaian golongan darah dan anak pada penggolongan Rhesus dan ABO.
- Pendarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran.
- Ikatan Bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan metabolik yang terdapat pada bayi Hipoksia atau Asidosis.
- Defisiensi G6PD/ Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase.
- Ikterus ASI yang disebabkan oleh dikeluarkannya pregnan 3 (alfa), 20 (beta), diol (steroid).
- Kurangnya Enzim Glukoronil Transeferase, sehingga kadar Bilirubin Indirek meningkat misalnya pada berat lahir rendah.
- Kelainan kongenital (Rotor Sindrome) dan Dubin Hiperbilirubinemia.
2. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan misalnya pada Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat tertentu misalnya Sulfadiasine.
3. Gangguan fungsi Hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksion yang dapat langsung merusak sel hati dan darah merah seperti Infeksi, Toksoplasmosis, Siphilis.
4. Gangguan ekskresi yang terjadi intra atau ekstra Hepatik.
5. Peningkatan sirkulasi Enterohepatik misalnya pada Ileus Obstruktif Kuman penyebabnya adalah mycobacterium leprae yang ditemukan oleh G.A Hansen pada tahun 1874 di Norwegia, yang sampai sekarang belum juga dapat dibiakkan dalam media artificial.

2.3 Patofisiologi
Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban Bilirubin pada sel Hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran Eritrosit, Polisitemia.
Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar Bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi Hipoksia, Asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.
Pada derajat tertentu Bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada Bilirubin Indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg/dl.
Mudah tidaknya kadar Bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Bilirubin Indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah , Hipoksia, dan Hipoglikemia ( AH, Markum,1991).

2.4 Klasifikasi
1. Ikterus Fisiologis
Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis. Ikterus fisiologis adalah Ikterus yang memiliki karakteristik sebagai berikut (Hanifa, 1987):
- Timbul pada hari kedua-ketiga
- Kadar Biluirubin Indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg% pada neonatus cukup bulan dan 10 mg % pada kurang bulan.
- Kecepatan peningkatan kadar Bilirubin tak melebihi 5 mg % per hari
- Kadar Bilirubin direk kurang dari 1 mg %
- Ikterus hilang pada 10 hari pertama
- Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadan patologis tertentu
2. Ikterus Patologis/Hiperbilirubinemia
Adalah suatu keadaan dimana kadar Bilirubin dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan Kern Ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. Brown menetapkan Hiperbilirubinemia bila kadar Bilirubin mencapai 12 mg% pada cukup bulan, dan 15 mg % pada bayi kurang bulan. Utelly menetapkan 10 mg% dan 15 mg%.
3. Kern Ikterus
Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin Indirek pada otak terutama pada Korpus Striatum, Talamus, Nukleus Subtalamus, Hipokampus, Nukleus merah , dan Nukleus pada dasar Ventrikulus IV.
4. Ikterus prehepatik
Disebabkan oleh produksi bilirubin yang berlebihan akibat hemolisis sel darah merah. Kemampuan hati untuk melaksanakan konjugasi terbatas terutama pada disfungsi hati sehingga menyebabkan kenaikan bilirubin yang tidak terkonjugasi.
5. Ikterus hepatik
Disebabkan karena adanya kerusakan sel parenkim hati. Akibat kerusakan hati maka terjadi gangguan bilirubin tidak terkonjugasi masuk ke dalam hati serta gangguan akibat konjugasi bilirubin yang tidak sempurna dikeluarkan ke dalam doktus hepatikus karena terjadi retensi dan regurgitasi.
6. Ikterus kolestatik
Disebabkan oleh bendungan dalam saluran empedu sehingga empedu dan bilirubin terkonjugasi tidak dapat dialirkan ke dalam usus halus. Akibatnya adalah peningkatan bilirubin terkonjugasi dalam serum dan bilirubin dalam urin, tetapi tidak didaptkan urobilirubin dalam tinja dan urin

2.5 Manisfestasi klinis
Tanda dan gejala pada penderita hiperbilirubin adalah;
1. Tampak ikterus pada sklera, kuku atau kulit dan membran mukosa.
2. Jaundice yang tampak dalam 24 jam pertama disebabkan oleh penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, sepsis, atau ibu dengan diabetik atau infeksi.
3. Jaundice yang tampak pada hari ke dua atau hari ke tiga, dan mencapai puncak pada hari ke tiga sampai hari ke empat dan menurun pada hari ke lima sampai hari ke tujuh yang biasanya merupakan jaundice fisiologis.
4. Ikterus adalah akibat pengendapan bilirubin indirek pada kulit yang cenderung tampak kuning terang atau orange, ikterus pada tipe obstruksi (bilirubin direk) kulit tampak berwarna kuning kehijauan atau keruh. Perbedaan ini hanya dapat dilihat pada ikterus yang berat.
5. Muntah, anoksia, fatigue, warna urin gelap dan warna tinja pucat, seperti dempul
6. Perut membuncit dan pembesaran pada hati
7. Pada permulaan tidak jelas, yang tampak mata berputar-putar
8. Letargik (lemas), kejang, tidak mau menghisap
9. Dapat tuli, gangguan bicara dan retardasi mental
10. Bila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat disertai spasme otot, epistotonus, kejang, stenosis yang disertai ketegangan otot
2.6 WOC

Read More...

Asuhan Keperawatan Lepra

SISTEM INTEGUMEN
“ASKEP LEPRA”


Di Susun Oleh :
Kelompok 7
Hili Riza 1126010006
Piranika 1126010023
Meggy Novriadi 1126010028
Satrio Noviansyah 1126010034
Fitri Annita 1126010037

PROGRAM ILMU KEPERAWATAN 
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN 
TRI MANDIRI SAKTI BENGKULU
2012/2013


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahhi Wabarakatuh
Puji syukur kita hanturkan kepada Allah swt berkat segala rahmat dan hidayahnya. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul “Lepra”
Dalam Penulisan makalah ini pemakalah merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki pemakalah. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini pemakalah menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan pembuatan makalah ini. Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi  pembaca.

Wasalammualaikum  Warahmatullahi Wabarakatuh.


Bengkulu,  Oktober 2013


Pemakalah




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR..................................................................................................................
DAFTAR ISI................................................................................................................................
BAB I  PENDAHULUAN...........................................................................................................
1.1 Latar Belakang......................................................................................................................
1.2 Tujuan Penulisan..................................................................................................................
BAB II  PEMBAHASAN............................................................................................................
2.1 Pengertian Lepra....................................................................................................................
2.2 Etiologi..................................................................................................................................
2.3 Pathogenesis..........................................................................................................................
2.4 Macam-macam Lepra............................................................................................................
2.5 Manisfestasi Klinis.................................................................................................................
2.6 Komplikasi............................................................................................................................
2.7 Penatalaksanaan....................................................................................................................
2.8 Asuhan Keperawatan............................................................................................................
BAB III  PENUTUP.....................................................................................................................
3.1 Kesimpulan...........................................................................................................................
3.2 Kritik dan Saran....................................................................................................................
Daftar Pustaka..............................................................................................................................



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Morbus Hansen atau biasa disebut sebagai lepra, kusta adalah penyakit infeksi kronis yg disebabkan oleh Mycobacterium leprae, pertama kali menyerang saraf tepi, setelah itu menyerang kulit dan organ-organ tubuh lain kecuali susunan saraf pusat. Mycobacterium Leprae ditemukan pertama kali oleh akmuer Hasen di norwegia dan memiliki sifat 1). Basil tahan asam dan tahan alkohol, 2). Obligat intraseluler, 3). Dapat diisolasi dan diinokulasi, tetapi tidak dapat dibiakkan, 4). Membelah diri antara 12-21 hari, 5). Masa inkubasi rata-rata 3-5 tahun (Asing, 2010). Lepra merupakan penyakit yang menyeramkan dan ditakuti oleh karena dapat terjadi ulserasi, mutilasi, dan deformitas (Djuanda, 2005).
Diperkirakan penderita didunia ± 10.596.000 dan di Indonesia ± 121.473 orang (data tahun 1992). Insiden dapat terjadi pada semua umur, tapi jarang ditemukan pada bayi, laki-laki lebih banyak dibanding wanita. Penularan Mycobacterium Leprae belum diketahui dengan jelas, tetapi diduga menular melalui saluran pernapasan (droplet infection), kontak langsung erat dan berlangsung lama. Faktor- faktor yang mempengaruhi penularan penyakit morbus hansen adalah  umur, jenis kelamin, ras, genetik, iklim, lingkungan/sosial ekonomi (Asing, 2010).
Penyebaran penyakit kusta dari suatu tempat ke tempat lain sampai tersebar diseluruh dunia, tampaknya disebabkan oleh perpindahan penduduk yang terinfeksi penyakit tersebut. Maka sebagai perawat profesional harus memiliki kompetensi yang baik dalam menanggulangi kejadian penyakit morbus hansen untuk memperbaiki mutu kesehatan masyarakat.

1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Mampu melaksanakan asuhan keperawatan secara komperhensif pada klien dengan penyakit morbus hansen atau yang sering kita dengar dengan penyakit lepra dan kusta.

1.2.2 Tujuan Khusus
Tujuan kami membuat makalah ini adalah sebagai berikut :
a. Memahami konsep dasar penyakit morbus hansen
b. Mampu melakukan pengkajian dan membuat asuhan keperawatan pada klien sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
c. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien sesuai dengan intervesi keperawatan.
d. Mengevaluasi dan mendokumentasikan asuhan keperawatan pada klien morbus hansen.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Lepra
Lepra adalah yang sering terjadi di negara tropis. Di Amerika Serikat, lepra dijumpai di California selatan, hawai, dan bagian di selatan. Lepra disebabkan oleh mycobacterium leprae, suatu bakteri tahan asam yang belum dibiakkan dimedia buatan. (Parakrama Chandrasoma dkk. 2005: 801)
Kusta (Lepra) adalah penyakit infeksi yang kronik penyebabnya ialah Mycobacterium leprae yang intraselular obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktur respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali sususan saraf pusat. (Adhi Djuanda, 2002 : 71)

2.2 Etiologi
M. leprae merupakan basil tahan asam (BTA), bersifat obligat intraselular, menyerang saraf perifer, kulit, dan organ lain seperti mukosa, saluran nafas bagian atas, hati, dan sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat. Masa membelah diri M. leprae 12-21 hari dan masa tunasnya antara 40 hari-40 tahun.
Kuman penyebabnya adalah mycobacterium leprae yang ditemukan oleh G.A Hansen pada tahun 1874 di Norwegia, yang sampai sekarang belum juga dapat dibiakkan dalam media artificial. M. leprae bebentuk basil dengan ukuran 3-8 μm x 0,5 µm, tahan asam dan alcohol, serta positif-Gram.

2.3 Pathogenesis
Setelah M. leprae masuk kedalam tubuh, perkembangan penyakit kusta bergantung pada kerentanan seseorang. Respon tubuh setelah masa tunas dilampaui tergantung pada derajat sistem imunitas selular (cellular mediated immune) pasien. Kalau system imunitas selular tinggi penyakit berkembang kearah tuberkuloid dan bila rendah, berkembang arah lepromatosa. M. leprae berpredileksi didaerah-daerah yang relatif lebih dingin, yaitu daerah akral dengan vaskularisasi yang sedikit.
Derajat penyakit tidak selalu sebanding dengan derajat infeksi karena respon imun pada tiap pasien berbeda. Gejala klinis lebih sebanding dengan tingkat reaksi selular dari pada itensitas infeksi. Oleh karena itu, penyakit kusta dapat disebut sebagai penyakit imunologi.

2.4 Macam-macam lepra
a. Lepra Tuberkuloid
Lepra tuberkuloid terjadi pada pasien yang memiliki respon sel T yang baik terhadap bakteri. Organisme ini terletak ditempat masuk, jumlah lesi kecil, dan penyebaran bakterimia jarang terjadi. Secara klinik, lesi kulit merupakan macula anestetik hipopigmentasi. (macula adalah daerah datar, berbatas tegas yang mengalami perubahan warna). Keterlibatan saraf perifer besar (ulnaris, peronealis komunis, aurikularis magnus) menimbulkan penebalan dan palsi saraf yang dapat diraba (lumpuh pada pada tangan atau Wristdrop dan kaki atau footdrop merupakan gambaran yang sering. Lepra tuberkuloid memiliki perjalanan penyakit yang lambat tanpa pengobatan. Lepra ini dapat sembuh bila diobati.
b. Lepra Lepromatosa
Lepra ini terjadi pada pasien pada pasien yang memiliki kadar imunitas selular rendah. Pada keadaan tidak adanya respon sel T yang ektif, bakteri berkembang tidak terkendali didalam makropag kulit, membentuk ‘sel lepra’ besar yang berbusa yang banyak ditemukan pada bakteri tahan asam. Agregasi makropag menyebabkan penebalan noduralitas kulit. Limposit ada tetapi tidak banyak.
Bakteri menyebar melalui aliran darah, menimbulkan lesi didalam kulit, mata, saluran napas atas, dan testis. Bakteri lepra timbul terutama pada suhu dibawah 370c, dan organ dalam (limpa dan hati) yang jarang terserang pada suhu tubuh inti. Lepra lepromatosa merupakan penyakit serius yang menyebabkan kerusakan luas pada jaringan. Terkenanya jari, hidung dan telinga menimbulkan perubahan bentuk pengobatan tidak memuaskan.
c. Lepra Borderline
Lepra borderline memiliki gambaran antara lepra lepromatosa dan tuberkulosa. (Parakrama Chandrasoma dkk. 2005: 801)

2.5 Manisfestasi klinis
Diagnosis didasarkan pada gambaran klinis, bakterioskopis, dan histopatologis. Menurut WHO (1995), diagnosis kusta ditegakkan bila terdapat satu dari tanda cardinal berikut:
1. Adanya lesi kulit yang khas dan kehilangan sensibilitas. Lesi kulit dapat tunggal atau multipel, biasanya hipopigmentasi tetapi kadang-kadang lesi kemerahan atau berwarna tembaga. Lesi dapat bervariasi tetapi umumnya berupa makula, papul, atau nodul.
2. Kehilangan sensibilitas pada lesi kulit merupakan gambaran khas. Kerusakan saraf terutama saraf tepi, bermanifestasi sebagai kehilangan sensibilitas kulit dan kelemahan otot. Penebalan saraf tepi saja tanpa disertai kehilangan sensibilitas dan/atau kelemahan otot juga merupakan tanda kusta.
3. Pada beberapa kasus ditemukan basil tahan asam dari kerokan jaringan kulit. Bila ragu-ragu maka dianggap sebagai kasus dicurigai dan diperiksa ulangn setiap 3 bulan sampai ditegakkan diagnosis kusta atau penyakit lain.

2.6 Komplikasi
Cacat merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada pasien kusta akibat kerusakan fungsi saraf tepi maupun karena neuritis sewaktu terjadi reaksi kusta.

2.7 Penatalaksanaan
Tujuan utama program pemberantasan kusta adalah menyembuhkan pasien kusta dan mencegah timbulnya cacat serta memutuskan mata rantai penularan dari pasien kusta terutama tipe yang menular kepada orang lain untuk menurunkan insidens penyakit.
Program multy drug therapy (MDT) dengan kombinasi rifampisin, klofazimin, dan DDS dimulai tahun 1981. program ini bertujuan untuk mengatasi resistensi dapson yang semakin meningkat, mengurangi ketidaktaatan pasien, menurunkan angka putus obat, dan mengeliminasi persistensi kuman kusta dalam jaringan.
Rejimen pengobatan MDT di indonesia sesuai rekomendasi WHO (1995) sebagai berikut :
1. Tipe B
Jenis obat dan dosis untuk dewasa :
Rifampisin 600 mg/bulan diminum didepan petugas.
DSS tablet 100 mg/hari diminum dirumah.
Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan dan setelah selesai minum 6 dosis dinyatakan RFT (released from treatment = berhenti minum obat kusta) meskipun secara klinis lesinya masih aktif. Menurut WHO (1995) tidak lagi dinyatakan RFT tetapi menggunakan istilah completion of treatment cure dan pasien tidak lagi dalam pengawasan.
2. Tipe MB
Jenis obat dan dosis :
Rifampisin 600 mg/bulan diminum didepan petugas.
Klofazimin 300 mg/bulan diminum didepan petugas dilanjutkan dengan klofazimin 50 mg/hari diminum dirumah.
DSS 100 mg/hari diminum dirumah.
Pengobatan 24 dosis diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan. Sesudah selesai minum 24 dosis dinyatakan RFT meskipun secara klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri positif. Menurut WHO (1998) pengobatan  MB diberikan untuk 12 dosis yang diselesaikan dalam 12-18 bulan dan pasien langsung dinyatakan RFT.

2.8 Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Biodata
Umur memberikan petunjuk mengenai dosis obat yang diberikan, anak-anak dan dewasa pemberian dosis obatnya berbeda. Pekerjaan, alamat menentukan tingkat sosial, ekonomi dan tingkat kebersihan lingkungan. Karena pada kenyataannya bahwa sebagian besar penderita kusta adalah dari golongan ekonomi lemah.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya klien dengan morbus hansen datang berobat dengan keluhan adanya lesi dapat tunggal atau multipel, neuritis (nyeri tekan pada saraf) kadang-kadang gangguan keadaan umum penderita (demam ringan) dan adanya komplikasi pada organ tubuh.
c. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Pada klien dengan morbus hansen reaksinya mudah terjadi jika dalam kondisi lemah, kehamilan, malaria, stres, sesudah mendapat imunisasi
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Morbus hansen merupakan penyakit menular yang menahun yang disebabkan oleh kuman kusta ( mikobakterium leprae) yang masa inkubasinya diperkirakan 2-5 tahun. Jadi salah satu anggota keluarga yang mempunyai penyakit morbus hansen akan tertular.
e. Riwayat Psikososial
Fungsi tubuh dan komplikasi yang diderita. Klien yang menderita morbus hansen akan malu karena sebagian besar masyarakat akan beranggapan bahwa penyakit ini merupakan penyakit kutukan, sehingga klien akan menutup diri dan menarik diri, sehingga klien mengalami gangguan jiwa pada konsep diri karena penurunan
f. Pola Aktivitas Sehari-hari
Aktifitas sehari-hari terganggu karena adanya kelemahan pada tangan dan kaki maupun kelumpuhan. Klien mengalami ketergantungan pada orang lain dalam perawatan diri karena kondisinya yang tidak memungkinkan.
g. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum klien biasanya dalam keadaan demam karena reaksi berat pada tipe I, reaksi ringan, berat tipe II morbus hansen. Lemah karena adanya gangguan saraf tepi motorik.
1. Sistem penglihatan.
Adanya gangguan fungsi saraf tepi sensorik, kornea mata anastesi sehingga reflek kedip berkurang jika terjadi infeksi mengakibatkan kebutaan, dan saraf tepi motorik terjadi kelemahan mata akan lagophthalmos jika ada infeksi akan buta. Pada morbus hansen tipe II reaksi berat, jika terjadi peradangan pada organ-organ tubuh akan mengakibatkan irigocyclitis. Sedangkan pause basiler jika ada bercak pada alis mata maka alis mata akan rontok.
2. Sistem pernafasan. Klien dengan morbus hansen hidungnya seperti pelana dan terdapat gangguan pada tenggorokan.
3. Sistem persarafan:
Kerusakan fungsi sensorik
Kelainan fungsi sensorik ini menyebabkan terjadinya kurang/ mati rasa. Alibat kurang/ mati rasa pada telapak tangan dan kaki dapat terjadi luka, sedang pada kornea mata mengkibatkan kurang/ hilangnya reflek kedip.
Kerusakan fungsi motorik
Kekuatan otot tangan dan kaki dapat menjadi lemah/ lumpuh dan lama-lama ototnya mengecil (atropi) karena tidak dipergunakan. Jari-jari tangan dan kaki menjadi bengkok dan akhirnya dapat terjadi kekakuan pada sendi (kontraktur), bila terjadi pada mata akan mengakibatkan mata tidak dapat dirapatkan (lagophthalmos).
Kerusakan fungsi otonom
Terjadi gangguan pada kelenjar keringat, kelenjar minyak dan gangguan sirkulasi darah sehingga kulit menjadi kering, menebal, mengeras dan akhirnya dapat pecah-pecah.
4. Sistem muskuloskeletal. Adanya gangguan fungsi saraf tepi motorik adanya kelemahan atau kelumpuhan otot tangan dan kaki, jika dibiarkan akan atropi.
5. Sistem integumen. Terdapat kelainan berupa hipopigmentasi (seperti panu), bercak eritem (kemerah-merahan), infiltrat (penebalan kulit), nodul (benjolan). Jika ada kerusakan fungsi otonom terjadi gangguan kelenjar keringat, kelenjar minyak dan gangguan sirkulasi darah sehingga kulit kering, tebal, mengeras dan pecah-pecah. Rambut: sering didapati kerontokan jika terdapat bercak.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan lesi dan proses inflamasi
b. Gangguan rasa nyaman, nyeri yang berhubungan dengan proses inflamasi jaringan
c. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik
d. Gangguan konsep diri (citra diri) yang berhubungan dengan ketidakmampuan dan kehilangan fungsi tubuh

3. Intervensi Keperawatan
a. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan lesi dan proses inflamasi
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan proses inflamasi berhenti dan berangsur-angsur sembuh.
Kriteria :
Menunjukkan regenerasi jaringan
Mencapai penyembuhan tepat waktu pada lesi
Intervensi :
1. Kaji/catat warna lesi, perhatikan jika ada jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.
Rasional : Memberikan informasi dasar tentang terjadi proses inflamasi dan atau mengenai sirkulasi daerah yang terdapat lesi.
2. Berikan perawatan khusus pada daerah yang terjadi inflamasi.
Rasional : Menurunkan terjadinya penyebaran inflamasi pada jaringan sekitar.
3. Evaluasi warna lesi dan jaringan yang terjadi inflamasi perhatikan adakah penyebaran pada jaringan sekitar.
Rasional : Mengevaluasi perkembangan lesi dan inflamasi dan mengidentifikasi terjadinya komplikasi.
4. Bersihkan lesi dengan sabun pada waktu direndam.
Rasional : Kulit yang terjadi lesi perlu perawatan khusus untuk mempertahankan kebersihan lesi.
5. Istirahatkan bagian yang terdapat lesi dari tekanan.
Rasional : Tekanan pada lesi bisa menghambat proses penyembuhan.
b. Gangguan rasa nyaman, nyeri yang berhubungan dengan proses inflamasi jaringan
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan proses inflamasi berhenti dan berangsur-angsur hilang.
Kriteria :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan proses inflamasi dapat berkurang
nyeri berkurang dan beraangsur-angsur hilang
Intervensi :
1. Observasi lokasi, intensitas dan penjalaran nyeri.
Rasional : Memberikan informasi untuk membantu dalam memberikan intervensi.
2. Observasi tanda-tanda vital.
Rasioanal : Untuk mengetahui perkembangan atau keadaan pasien.
3. Ajarkan dan anjurkan melakukan tehnik distraksi dan relaksasi.
Rasional : Dapat mengurangi rasa nyeri.
4. Atur posisi senyaman mungkin
Rasional : Posisi yang nyaman dapat menurunkan rasa nyeri.
5. Kolaborasi untuk pemberian analgesik sesuai indikasi.
Rasional : Menghilangkan rasa nyeri.
c. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan kelemahan fisik dapat teratasi dan aktivitas dapat dilakukan.
Kriteria :
Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari
Kekuatan otot penuh
Intervensi :
1. Pertahankan posisi tubuh yang nyaman.
Rasional : Meningkatkan posisi fungsional pada ekstremitas.
2. Perhatikan sirkulasi, gerakan, kepekaan pada kulit.
Rasional : Oedema dapat mempengaruhi sirkulasi pada ekstremitas.
3. Lakukan latihan rentang gerak secara konsisten, diawali dengan pasif kemudian aktif.
Rasional : Mencegah secara progresif mengencangkan jaringan, meningkatkan pemeliharaan fungsi otot/sendi.
4. Jadwalkan pengobatan dan aktifitas perawatan untuk memberikan periode istirahat.
Rasional : Meningkatkan kekuatan dan toleransi pasien terhadap aktifitas.
5. Dorong dukungan dan bantuan keluaraga/orang yang terdekat pada latihan.
Rasional : Menampilkan keluarga/orang terdekat untuk aktif dalam perawatan pasien dan memberikan terapi lebih konstan.
d. Gangguan konsep diri (citra diri) yang berhubungan dengan ketidakmampuan dan kehilangan fungsi tubuh.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan tubuh dapat berfungsi secara optimal dan konsep diri meningkat.
Kriteria :
Pasien menyatakan penerimaan situasi diri
Memasukkan perubahan dalam konsep diri tanpa harga diri negatif
Intervensi :
1. Kaji makna perubahan pada pasien.
Rasional : Episode traumatik mengakibatkan perubahan tiba-tiba. Ini memerlukan dukungan dalam perbaikan optimal.
2. Terima dan akui ekspresi frustasi, ketergantungan dan kemarahan. Perhatikan perilaku menarik diri.
Rasional : Penerimaan perasaan sebagai respon normal terhadap apa yang terjadi membantu perbaikan.
3. Berikan harapan dalam parameter situasi individu, jangan memberikan kenyakinan yang salah.
Rasional : Meningkatkan perilaku positif dan memberikan kesempatan untuk menyusun tujuan dan rencana untuk masa depan berdasarkan realitas.
4. Berikan penguatan positif.
Rasional : Kata-kata penguatan dapat mendukung terjadinya perilaku koping positif.
5. Berikan kelompok pendukung untuk orang terdekat.
Rasional : Meningkatkan ventilasi perasaan dan memungkinkan respon yang lebih membantu pasien.
4. Evaluasi
Evaluasi yang kan dilakukan yaitu :
1. Memiliki pemahaman terhadap perawatan kulit terutama pada penyakit kusta
2. Mengikuti terapi dan dapat menjelaskan alasan terapi
3. Melaksanakan perawatan dan pembersihan lesi atau inflamasi sesuai program
4. Menggunakan obat yang sesuai dan tepat
5. Memahami pentingnya nutrisi yang dibutuhkan untuk kesehatan kulit


BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Kusta (Lepra) adalah penyakit infeksi yang kronik penyebabnya ialah Mycobacterium leprae yang intraselular obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktur respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali sususan saraf pusat. Terdiri atas beberapa macam yaitu Lepra Tuborkoloid, Lepra Lepromatosa, dan Lepra Borderline. Gejala yang ditimbulkan dapat berupa lesi kulit, penebalan dan perubahan sensibilitas kulit, serta dapat terjadi kelemahan otot akibat kerusakan saraf tepi.
3.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, penulis mengharapkan kepada para mahasiswa keperawatan khususnya, agar dapat memahami dan menambah pengetahuan kita tentang Lepra dalam mata kuliah sistem integumen. Serta diharapkan kritik dan saran yang membangaun dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini.




DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilyn E. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi III. Jakarta : EGC
Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC
Mansjoer, arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius
Chandrasoma, Parakrama dan Clive R. Taylor. 2005. Ringkasan Patologi Anatomi Edisi 2. Jakarta : EGC
Djuanda, Adhi. 2002.  Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 3. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Read More...

Minggu, 11 Agustus 2013

Sejarah berdirinya Dukuh NOLO...konon ditafsirkan pd th 1445-1450 an setelah kerajaan Majapahit terpecahbelah dan datang seseorang yg membuka Alas/babad alas ditempat tsb dg sebutan nama oleh masyarakat setempat Mbah NALA MERTA,dg bukti sejarah petilasan makom MBAH NALA MERTA beserta istri/kerabatnya yang tdk bernama dan diseberang sungai kecil ada tempat percanden makom konon kata masyarakat setempat bernama Nyi Rondo Sepuh SUNTHI sebagai kampiran Mbah Nala Merta.....(th 2013).

Read More...

KI AGENG BROJO NOLO (den djoyo rono/R.M.Djoyo kelono ) Dalam Kitab serat babad pamodjan, Terdapat bait- bait sastra yg menuliskan perjalanan Den djoyo Rono ( kelono)yang pada akhirnya beliau di kenal dengan sebutan gelar Ki yai Ageng Brojo Nolo, Nama yang mengartikan keteguhan hati ..Brojo yang artinya besi ,keras ,teguh, kukuh sedang Nolo artinya hati . karena keteguhan niat dan kemantapan berjuang Beliau sehingga pada waktu itu tetua dan masyarakat yg di pimpinya memberikan gelar, sekaligus untuk menyamarkan nama dari pengejaran penjajah . Namun ada penafsiran lain bahwasanya nama Brojonolo berasal dari pengartian pintu gerbang istana/ praja, karena di keraton keraton dulu menamai pintu utama masuk adalah di namakan kori brojonolo. Dari alasan tersebut penafsiran ini di maksudkan mungkin nama tersebut di berikan karena pada waktu itu, bertekat untuk membuat dukuh babadanya sebagai pintu gerbang masuk ke arah dukuh dukuh selanjutnya.karena sebelum itu tidak ada desa/ dukuh dalam babat cuman di sebutkan " kang tetelo amung rondo sepuh aneng dukuh kampiran ( dadapan)........... Ada juga yang menafsirkan bahwa Brojonolo bukan den djoyo tapi seorang pembunuh bayaran dan perampok yg mungkin sengaja di utus untuk menangkap/ membunuh den djoyo. dan yang lain ada yg berpendapat bahwa brojonolo bukanlah manusia tapi jin/ khodam yg menemani/ ilmu Den Djoyo......

Read More...